Penerapan Rumus 5W + 1H dalam Edukasi Seks bagi Remaja

Pengantar Redaksi

 

Memanfaatkan momen Hari Kesehatan Seksual Dunia, 4 September, LETSS Talk bekerjasama dengan Pergerakan Difabel Indonesia untuk Kesetaraan (PerDIK) mengadakan lomba menulis bagi pelajar SMP dan SMU dengan tema “Remaja dan Pendidikan Seks dan Seksual.” Kegiatan inklusif yang terbuka bagi remaja difabel dan non-difabel dan berlangsung sekitar 3 minggu masa “penerimaan” karya tulis in berhasil menerima 10 tulisan, 8 untuk tingkat SMU dan sisanya untuk tingkat SMP. Meski diberi nama “lomba”, kegiatan ini tidak sama sekali bertujuan sebagai kompetisi dalam arti pertandingan dan persaingan. Kegiatan ini lebih bertujuan sebagai observasi tentang situasi terkait akses para remaja terhadap pendidikan seks dan seksualitas dan isu-isu seks dan seksualitas lainnya. Dengan asumsi Pendidikan seks dan seksualitas sama sekali bukan mainstream dan masih jauh untuk bisa diakses para remaja kita, LETSS Talk tidak berharap akan mendapat kiriman karya tulis yang cukup banyak, dengan kualitas, baik dari segi isi dan teknis, yang semuanya “layak.” Dalam hal ini perlu ditegaskan, LETSS Talk tidak terlalu fokus atau menekankan “kualitas” baik dari isi maupun teknis tulisan yang dikirim para peserta. Kami memberi penghargaan yang sangat tinggi pada para remaja yang berkenan menyertakan karyanya dalam kegiatan ini, yang memberi informasi sangat penting bagi “situasi” akses para remaja terhadap isu seks dan seksualitas. Partisipasi dan tulisan yang mereka kirimkan menginsiprasi berbagai ide dan pemikiran untuk membangun berbagai inisiatif demi menguatkan akses para remaja terhadap berbagai pengetahuan dan informasi terkait seks dan seksualitas –yang memang menjadi “tanggungjawab” kita.

Di website ini, LETSS Talk telah menerbitkan tiga tulisan, yaitu (1) “Yess, Aku Remaj dan Menjalani Masa Pubertas dengan Gembira!” karya  Alyaa Khofifah Putri Hardana, Juara 1 tingkat SMP, (2) “Difabel maupun Non-Difabel, Semua Remaja Perempuan Itu Rentan Mendapatkan Pelecehan Seksual” karya Nabila May Sweetha, juara 1 tingkat SMU, dan (3) “Statistika dan Dampak Pergaulan Bebas” karya Rezki Try Ulva yang merupakan juara 2 tingkat SMU. Tulisan berikut adalah karya Gressia Carolina Pelajar Mimi Institute, Juara 3 Tingkat SMU, dengan judul Penerapan Rumus 5W + 1H dalam Edukasi Seks bagi Remaja.

Happy reading and learning!

 

Penerapan Rumus 5W + 1H dalam Edukasi Seks bagi Remaja

 

Oleh Gressia Carolina

Pelajar Mimi Institute, Juara 3 Lomba Menulis “Remaja dan Pendidikan Seks dan Seksualitas”

Dewasa ini, pergaulan bebas banyak ditemui di kalangan remaja. Perilaku “menyimpang” seperti hura-hura, penggunaan obat-obatan terlarang, seks bebas atau seks pranikah, dan perilaku negatif lainnya sudah menjadi suatu hal biasa yang terjadi di kalangan kawula muda. Salah satu perilaku “menyimpang” yang perlu diperhatikan secara khusus adalah seks bebas atau seks pranikah. Banyak kaum muda melakukan hubungan seks bebas dengan pasangan ataupun temannya sendiri. Banyak dari mereka melakukannya karena ikut-ikutan atau hanya karena penasaran tanpa paham apa akibat yang akan mereka terima kelak.

Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Reckitt Benckiser Indonesia pada 2019 (https://m.liputan6.com/health/read/4016841/riset-33-persen-remaja-indonesia-lakukan-hubungan-seks-penetrasi-sebelum-nikah) terhadap 500 remaja di lima kota besar di Indonesia, 33% remaja pernah melakukan hubungan seks penetrasi. Dari hasil tersebut, 58% nya melakukan penetrasi di usia 18-20 tahun. Para peserta survei  ini adalah mereka yang belum menikah.

Kondisi ini sungguh mencengangkan. Hal tersebut bisa dilihat dari banyaknya remaja putri yang hamil di luar nikah dan ini berpotensi memicu mereka untuk menggugurkan kandugaannya. Kegagalan dari upaya pengguguran tersebut adalah suatu masalah besar terhadap kondisi bayi yang akan lahir. Tidak jarang bayi yang terlahir tidak sempurna diakibatkan oleh karena aborsi yang gagal. Hal itu terjadi karena ibu sang bayi mengonsumsi obat-obatan berbahaya untuk menggugurkan janinnya.

Tingkat keingintahuan yang tinggi menyebabkan para remaja berupaya dalam mendapatkan informasi yang ingin mereka ketahui. Dalam kasus ini, banyak remaja mendapatkan Pendidikan seks dan seksualitas pertama-tama dari sumber informasi seperti situs di internet ataupun dari sesama teman lainnya. Tentu saja informasi yang tidak disaring atau tanpa kontrol itu lebih beresiko karena belum tentu terdapat fakta atau kebenaran di dalamnya. Celakanya, informasi yang salah akan diserap  oleh para remaja yang belum punya kemampuan yang baik dalam membedakan mana yang benar, dan mana yang kurang tepat. Akibatnya, sikap atau prilaku yang ditimbulkan dari informasi tersebut adalah reaksi serta prilaku yang salah pula. Oleh karena itu, pendidikan seks dan seksualitas sejak dini sangat penting dilakukan sebelum terlambat.

Peran Orangtua

Sejatinya, pengetahuan seksualitas bukanlah suatu hal yang tabu untuk diketahui oleh anak-anak. Selama cara penyampaiannya benar dan proses penerimaannya tepat maka hasil  yang diperoleh juga pasti baik. Justru jika informasi tersebut didapatkan dengan cara yang kurang tepat maka risiko terjadinya penyimpangan akibat pengetahuan yang salah semakin besar.

Inilah salah satu pentingnya peran orangtua dalam pertumbuhan remaja. Orangtua sangat berperan penting dalam memberikan Pendidikan seks dan seksualitas sejak dini. Namun sayangnya, kebanyakan orangtua tidak paham betapa pentingnya pengetahuan seksual bagi remaja atau anak-anak mereka. Banyak orangtua menganggap bahwa pembahasan mengenai seks dan seksualitas adalah suatu hal yang tabu atau kurang pantas, apalagi bila harus dibicarakan kepada anak-anak mereka. Alhasil dengan sikap tersebut, anak-anak khususnya remaja bisa saja mencari tahu dan mendapatkan informasi dari sumber yang tidak tepat.

Sikap orangtua yang demikian dapat menimbulkan rasa takut bagi anaknya saat ingin bertanya tentang seksualitas. Para remaja takut dihakimi atau dianggap bersalah karena ingin tahu mengenai seksualitas. Ketakutan inilah yang menghambat para remaja untuk mendapatkan pengetahuan yang tepat mengenai seks dan seksualitas. Sebenarnya kedua belah pihak, baik orangtua dan anak haruslah seimbang dalam mengkomunikasikan tentang seksualitas. Langkah awal bisa dimulai oleh orangtua yang memberikan pendidikan seks dan seksualitas yang benar bagi anak-anaknya. Kemudian, anak-anak juga perlu aktif dalam mencari tahu secara keseluruhan mengenai seksualitas. Hal ini tentu saja perlu dilakukan dengan cara yang tepat, dengan menekankan komunikasi dua arah.

Fakta yang menunjukkan prilaku penyimpangan seks oleh para remaja merupakan bentuk miskomunikasi antara orangtua dengan anaknya. Faktanya, banyak orangtua yang tidak percaya ketika mendapati anaknya telah jatuh ke dalam pergaulan seks bebas. Orangtua bisa menjadi terkejut saat mendapati anaknya telah hamil di luar nikah, atau mengetahui anaknya berprilaku seks bebas. Ini sering terjadi pada orangtua yang mengira bahwa anak remaja mereka baik-baik saja. Ironisnya, orangtua menganggap bahwa anak remaja mereka masih lugu atau belum tahu apa-apa mengenai seksualitas. Namun ibarat pepatah yang berbunyi nasi telah menjadi bubur, yang tersisah hanyalah penyesalan dan kekecewaan ketika orangtua mengetahui anaknya telah salah jalan.

Terhadap kasus ini, tidak bijak rasanya jika orangtua mencari kambing hitam atas “penyimpangan seksual,” dalam hal ini seks bebas yang dilakukan anaknya. Sejatinya, orangtua perlu melakukan introspeksi, mengapa hal ini terjadi. Sebelum seorang remaja keluar atau terjun di dunia luar, mereka berada di dalam lingkup atau jangkauan orangtua. Sebab itu memberikan edukasi yang benar adalah salah satu tugas utama dari orangtua. Jika ingin membahas soal seksualitas dengan anak-anaknya, pertama-tama orangtua harus menyingkirkan kata tabu saat membicarakan hal tersebut.

Di era yang serba digital ini, semua orang dengan mudahnya memperoleh informasi melalui internet. Bahkan telah terbukti melalui internet, budaya Barat lebih mudah diserap sehingga mempengaruhi prilaku masyarakat Indonesia, termasuk para remaja. Budaya tersebut mempengaruhi hampir pada semua aspek kehidupan masyarakat Indonesia, termasuk paradigma tentang seksualitas. Implikasinya, nilai-nilai budaya timur yang menganggap seksualitas adalah hal yang tabu perlahan-lahan mulai tergerus. Secara normatif, budaya timur tidak biasa membahas masalah seksualitas secara proporsional. Apalagi berlebihan. Ini berarti setiap orang tidak leluasa membicarakan secara gamblang mengenai seksualitas. Idealnya, pembahasan mengenai seksualitas mesti dapat dikemas dalam bentuk edukasi sehingga setiap orang, khususnya remaja dapat memperoleh pemahaman yang benar mengenai kehidupan atau kesehatan seksual.

Keterbukaan informasi dan kemajuan teknologi membuat remaja dengan mudahnya mengakses informasi tentang apapun melalui internet, termasuk informasi soal seksualitas. Hal ini sangat berisiko jika dilakukan tanpa pengawasan dari orangtua atau orang dewasa yang paham tentang seksualitas. Berdasarkan hal tersebut, di sini orangtua perlu mengambil peran aktif dalam memberikan edukasi yang tepat bagi anak-anaknya. Sehingga anak-anak tidak mengambil sikap yang nantinya akan merugikan hidup mereka sendiri.

 

Rumus 5W + 1H

Salah satu cara yang bisa dilakukan orangtua untuk mulai memberikan edukasi kepada anak-anaknya ialah menggunakan rumus 5W + 1H. Mengapa menggunakan rumus tersebut? Sejauh ini, rumus 5W + 1H cukup familiar di kalangan para remaja. Hal itu karena di bangku SMP dan SMA, 5W + 1H telah diperkenalkan dan kerap digaungkan dalam proses kegiatan belajar mengajar. Jadi, branding “5W + 1H”  mudah diingat oleh remaja. Maka itu tidak ada salahnya bila rumus tersebut dikonversikan agar remaja lebih mudah dalam memahami tentang edukasi seks. Orangtua bisa menerapkan rumus ini sebagai bahan edukasi seks bagi anak-anaknya. Penjelasan dari rumus 5W + 1H adalah sebagai berikut. Pertama,  What yakni apa saja yang perlu diketahui anak saya mengenai seksualitas? Hal pertama yang perlu diketahui anak mengenai seksualitas adalah hal yang mudah dipahami terlebih dulu. Seperti apa saja alat reproduksi pada perempuan dan laki-laki, apa fungsinya? Dan seterusnya. Apa saja bagian tubuh yang tidak boleh disentuh oleh orang lain?

Kedua, Who yakni siapa yang bertanggung jawab terhadap pengetahuan seksualitas anak saya? Seperti pembahasan di atas, edukasi seks perlu dilakukan pertama-tama oleh orangtua. Sebab itu penting bagi orangtua untuk menghilangkan istilah tabu, karena edukasi seks adalah tanggung jawab orangtua kepada anak-anaknya. Hal ini diperlukan supaya orangtua juga dapat mengontrol dan memantau sejauh apa pengetahuan dan prilaku seksual anak-anaknya.

Ketiga, Why yakni mengapa saya sebagai orangtua harus memberikan edukasi seks sejak dini pada anak saya? Keluarga adalah tempat pertama dan utama seorang anak belajar mengenai apapun. Dalam proses belajar tersebut, seorang anak bertumbuh melalui informasi yang diperoleh dari keluarganya, terutama orangtua mereka. Jadi, sebelum seorang remaja masuk ke dunia luar dan mengakses segala informasi tanpa batas, mereka harus terlebih dahulu mendapatkan informasi dan edukasi dari orangtuanya. Edukasi dari orangtua, termasuk edukasi soal seksualitas akan menjadi filter dan membantu remaja dalam memahami seksualitas dengan benar. Sebab itu penting bagi orangtua memahami perannya dalam memberikan edukasi seks dan seksualitas bagi anak-anak sebelum mereka memasuki dunia yang lebih luas, juga lebih rentan akan pengeruh-pengaruh negatif.

Keempat, When yakni kapan saya harus memberikan edukasi seks pada anak saya? Orangtua perlu melakukan hal tersebut dari sejak dini. Ketika seorang anak sudah mampu memahami bahasa dan menerima sebuah pengetahuan, orangtua perlu menyelipkan edukasi seks ini pada anak-anaknya. Sehingga anak-anak tidak terlambat untuk diselamatkan dari prilaku seks yang menyimpang atau seks bebas. Kelima, Where yakni di mana anak-anak bisa mendapatkan edukasi seks dan seksualitas? Anak-anak atau remaja bisa di mana saja mendapatkan edukasi seks yang ingin mereka peroleh. Maka itu, sudah seharusnya orangtua mendahului pihak lain dalam meletakan dasar yang kuat mengenai pengetahuan seksual bagi anak-anaknya. Jadi sesungguhnya tempat yang tepat untuk remaja mengetahui atau mendapatkan edukasi seks ialah dari keluarga terlebih dahulu.

Keenam, How yakni bagaimana saya sebagai orangtua bisa memberikan edukasi seks yang benar bagi anak saya? Ini penting untuk diketahui oleh orangtua. Jika orangtua merasa belum mampu untuk memberikan edukasi seks yang tepat bagi anak-anaknya, dikarenakan kurangnya pengetahuan, orangtua bisa mencari informasi tersebut melalui sumber-sumber yang valid semisal dari dokter, psikolog, lembaga-lembaga yang kompeten, atau bahan bacaan dan literasi yang dapat dipercaya. Sehingga orangtua dapat juga bersama-sama belajar serta membagikannya kembali kepada anak-anaknya tentang pengetahuan seksual yang benar, dan kemudian mengarahkan anaknya untuk berprilaku seks secara sehat dan bertanggung jawab.

 

Perlu Sikap Aktif

Orangtua harus mengambil sikap aktif dalam mendidik anak-anak remaja mereka. Hal ini penting demi masa depan anak-anak mereka. Selain itu anak-anak adalah generasi penerus bangsa serta kelak anak-anak juga akan membangun keluarga baru mereka sendiri. Disadari bersama bahwa bangsa yang kuat dan besar dimulai dari keluarga yang utuh. Sangat penting bagi remaja memahami peran orangtua dalam keluarga. Tentu saja hal tersebut perlu didahului oleh teladan dari orangtua mereka sendiri.

Berdasarkan penggunaan rumus 5W + 1H, orangtua bisa mendapatkan gambaran serta pemahaman betapa pentingnya edukasi seks sejak dini bagi kaum muda. Rumusan tersebut dapat divariasikan sesuai kebutuhannya. Dalam hal ini remaja juga bisa menggali dan mengajukan pertanyaan-pertanyaan timbal balik dengan menggunakan rumus 5W+1H tersebut.  Pertanyaan-pertanyaan bisa diajukan secara lebih khusus dan jauh lagi, bukan saja sekadar tentang  edukasi seks yang mendasar, tetapi soal prilaku seks bebas. Hal ini mengingat tren pergaulan bebas di kalangan remaja kian hari kian meningkat baik pola dan kuantitasnya. Jawaban-jawaban  dari pertanyan-pertanyaan tersebut dimaksudkan agar remaja mampu berpikir lebih jauh, berprilaku seks secara sehat dan bertanggung jawab.

Pertanyaan-pertanyaan dari rumus 5W + 1H tersebut sebagai berikut.  Apa akibatnya jika saya memilih untuk berprilaku seks bebas? Dengan siapa saya bisa mendapatkan pemahaman yang tepat mengenai seks? Mengapa saya perlu menghindari prilaku seks bebas? Kapan saat yang tepat  saya bisa melakukan hubungan seksual? Di mana saya bisa mendapatkan pengetahuan yang tepat mengenai hal tersebut? Bagaimana saya harus menyikapi pergaulan seks bebas?

Berkaca dari merebaknya prilaku seks bebas di kalangan remaja, maka itu penting peran aktif orangtua dan remaja dalam menjaga serta menghindari penyimpangan prilaku sosial, khususnya seks bebas. Kata tabu membicarakan seksualitas harus disingkirkan. Mengapa demikian? Karena jika remaja salah mendapatkan informasi tentang seksualitas, maka dampak yang ditimbulkan sangat berpengaruh besar terhadap masa depannya. Seperti fenomena gunung es yang makin lama makin membuncah, karena itu harus diantisipasi lebih awal. Peduli terhadap pengetahuan kesehatan reproduksi dan kehidupan seksual yang benar sejak dini, adalah kunci awal dari berkurangnya angka kehamilan remaja di luar nikah, sekaligus meminimalkan hancurnya masa depan anak dan remaja.

Rasa bersalah dan penyesalan yang dalam dapat menghinggapi mereka yang memiliki prilaku seks bebas, khususnya remaja putri. Seorang remaja putri yang terjerumus ke dalam jurang pergaulan seks bebas rentan menjadi pribadi yang tertutup, malu, dan merasa tidak berharga. Hal ini berpotensi menghambat pertumbuhan psikisnya, dan berpengaruh pada interaksi sosialnya. Oleh karena itu, rumus 5W + 1H bisa dikonversikan sebagai bahan pertimbangan untuk membahas mengenai edukasi seks bagi remaja. Dengan panduan pertanyaan-pertanyaan tersebut di atas, seseorang diharapkan dapat lebih mudah mendapatkan informasi yang benar tentang Pendidikan seks dan seksualitas.

Kata tabu yang dapat menghambat pengetahuan seseorang tentang seksualitas yang benar, harus dipinggirkan. Sebagai gantinya, edukasi seks dan seksualitas perlu dibahas secara terbuka dan proporsional. Tidak perlu ditutup-tutupi, apalagi ditabukan. Semua ini bertujuan agar tercipta kehidupan sosial yang sehat, beradab, sesuai dengan norma-norma hukum, moral, dan etika.

Posted in Kontributor.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *