Penguatan Peran Masyarakat dalam Pemenuhan Hak Anak Difabel (Pentingnya Perspektif Gender)

Apri Iriyani, dok pribadi

Apri Iriyani, dok pribadi.

Oleh Apri Iriyani, S. I. Kom

Staf Pendidikan Inklusif di Yayasan Wahana Inklusif Indonesia

 

 

Komunitas/kelompok difabel merupakan bagian dari warga negara yang memiliki hak yang sama dengan warga negara yang lain. Pada tulisan ini, saya ingin secara khusus mendiskusikan pentingnya peran masyarakat dalam pendampingan anak difabel, sebagai salah satu pintu masuk bagi upaya pemenuhan hak-hak mereka. Dengan fokus ini, saya ingin menekankan bahwa pemenuhan hak difabel sangat membutuhkan upaya-upaya yang dimulai dari unit terkecil dalam masyakarat, yakni keluarga. Contoh paling nyata adalah layanan pola asuh yang memadai sesuai kebutuhan difabel bagi tumbuh kembang anak sejak dini agar anak difabel mampu menuju proses kemandirian di bidang pendidikan maupun secara sosial. Dalam tulisan ini, saya juga memakai kata anak dengan disabilitas untuk merujuk makna yang sama dengan kata anak difabel.

Dalam UU Nomor 8 Tahun 2016 tentang Pengandang Disabilitas disebutkan bahwa disabilitas merupakan sebuah konsep yang meliputi gangguan, keterbatasan aktivitas, dan pembatasan partisipasi. Gangguan adalah sebuah masalah pada fungsi tubuh atau strukturnya; suatu pembatasan kegiatan adalah kesulitan yang dihadapi oleh individu dalam melaksanakan tugas atau tindakan, sedangkan pembatasan partisipasi merupakan masalah yang dialami oleh individu dalam keterlibatannya dengan situasi kehidupan. Jadi,kita perlu memahami disabilitas sebagai sebuah fenomena kompleks yang mencerminkan interaksi antara kondisi dari tubuh seseorang dan kondisi yang ditunjukkan masyarakat di mana para difabel tinggal.

Untuk melihat bagaimana pendampingan menjadi upaya penting bagi pemenuhan hak anak dengan disabilitas, saya akan menyajikan narasi atas pengalaman saya langsung sebagai pendidik anak dengan disabilitas. Ada seorang anak berinisial ANR kelas 1 di SDN Beji, Depok. Berdasarkan hasil pemeriksaan psikologis, pada saat ANR berusia 7 tahun 6 bulan  tepatnya pada Maret 2019, ANR mengalami disabilitas intelektual berat dan fungsi adaptif. Untuk mengoptimalkan potensi- potensi ANR guna mengurangi perilaku yang menjadi keluhan, maka diberikan saran untuk orang tua, guru, dan pendidik di lembaga pendidikan inklusif tempat ANR belajar selain di sekolah.

Selain itu kegiatan pendampingan juga harus memerhatikan aspek gender. Perspektif gender menjadi hal sangat penting di sini agar kita bisa memahami pembagian kerja dan tugas rumah tangga yang sering tidak seimbang antara suami dan isteri bahkan sebelum adanya kegiatan pendampingan. Misalnya, tugas pengasuhan dan pembelajaran ANR di rumah hanya dibebankan pada pihak ibu. Padahal ibu ANR sendiri selain bekerja sebagai ibu rumah tangga juga bekerja mencari nafkah di keluarganya. Lagi- lagi kondisi ini menjadikan perempuan mengalami peningkatan intensitas pekerjaan rumah tangga tidak berbayar dibandingkan laki- laki. Padahal pembagian kerja secara adil dalam keluarga menjadi penting. Anak-anak mempunyai contoh baik tentang pembagian kerja secara adil ini ketika kedua orang tua, baik ibu atau ayah, sama-sama terlibat dalam pekerjaan baik di dalam rumah maupun di luar rumah termasuk pada kerja pengasuhan dan pendampingan anak difabel ini.

Perspektif gender sangat dibutuhkan untuk memahami pembagian kerja yang tidak setara dan timpang dan berbagai persoalan ketidakadilan gender baik dalam keluarga maupun dalam masyarakat. Di samping itu kita juga bisa lebih sensitif dalam melihat dan memahami kebutuhan gender yang kemungkinan berbeda antara gender yang berbeda, termasuk kebutuhan seksualitas mereka. Mengingat ANR sebagai murid laki-laki, maka pendamping ANR di toilet sengaja dipilih laki- laki dewasa. Ketika berada di dalam toilet pun, ANR juga belajar menutup pintu toilet sekaligus membuka celana di dalam, bukan di luar. Supaya ANR memahami bagian tubuh mana yang boleh dan tidak boleh terlihat, boleh disentuh dan tidak boleh disentuh, termasuk pihak siapa saja yang diijinkan untuk melihat dan menyentuh bagian tubuh.

Pendidikan seks dan seksualitas harus diajarkan sejak dini, bukan hanya pengenalan tubuh dan kesehatan seksual, tetapi juga control terhadap tubuh, pengenalan persoalan gender dan seksualitas dan kekerasan seksual dan bagaimana cara mencari pertolongan. Di samping itu, perlu memberikan edukasi tentang menjaga tubuh sendiri, menghormati seksualitas orang lain dan keragaman gender dan seksual dan benar-benar tahu bahwa siapapun tidak boleh melakukan kekerasan seksual karena setiap orang berpotensi tidak hanya menjadi korban tetapi juga pelaku kekerasan seksual. Jika ANR semakin besar, dia juga harus mulai diajak mengenal hal-hal terkait seks, termasuk masa akil baligh, ketertarikan seksual dan hubungan intim, sampai identitas seksual pada diri ANR. Dengan demikian, pendamping ANR termasuk para orang tua perlu belajar tentang isu-isu gender dan seksualitas. Tentu saja ini dimaksudkan agar ANR mendapat akses terhadap layanan pendidikan tentang seks dan seksualitas, yang juga menjadi haknya dan hak setiap orang yang harus dipenuhi.

Kembali pada kegiatan pendampingan ANR, pertama- tama dari peran orang tua dengan membuat jadwal aktivitas ANR, termasuk keterangan waktu di dalamnya untuk masing-masing kegiatan. ANR juga perlu dilatih dalam proses belajar untuk area binadiri seperti melakukan kegiatan buang air besar dan cara membersihkan diri setelahnya (toilet training). Cara yang dapat dilakukan akan dijabarkan dalam PPI (Program Pembelajaran Individual). Peran partisipatif orang tua, guru, dan pendidik di lembaga pendidikan inklusif perlu membantu ANR dengan cara bertanya kepadanya secara berkala, misalnya setiap 30 menit sekali, apakah ANR hendak ke toilet. Apabila ANR ingin buang air kecil, maka di awal pendampingan, ANR perlu diantar ke kamar mandi. Selain itu, para pendamping perlu membantu untuk memeriksa apakah ANR sudah membersihkan diri dengan baik dan benar.

Tentu saja kegiatan area bina diri perlu didukung kondisi lingkungan sekolah dan lingkungan sekitar yang bisa diakses untuk ANR. Mengingat ANR memiliki hambatan motorik kasar dan halus, maka harus disediakan toilet duduk untuk memudahkan ANR ketika buang air, penggunaan kran flush di toilet duduk agar ANR bisa segera membersihkan diri dan membersihkan toilet setelah dia gunakan, kemudian letak gayung dan keran air yang terjangkau, dan bentuk kran air yang bisa dinaik turunkan, bukan diputar, ketika menyalakan atau mematikan saluran air.

Sebagai tambahan, para pendamping ANR perlu membantu mengembangkan potensi ANR melakukan kegiatan merawat diri, kami mengajarkan cara mengancingkan pakaian dan cara memasang ikat pinggang yang ia kenakan sehari- hari. Hal ini terkait dengan motorik halus. Sebab kemandirian ANR dalam dua hal ini akan membantunya membuang air secara mandiri. Untuk area bekerja, ANR dapat diberi tanggung jawab sederhana di rumah seperti mencuci piringnya setelah makan menggunakan cuci piring plastik agar tidak beresiko jika terjatuh. Program disusun selama dua minggu atau 14 hari dengan lembar monitoring dan evaluasi untuk masing- masing pihak yang terlibat

Dengan melihat dari proses pembelajaran pada studi kasus ANR, kita bisa memahami bagaimana si anak ternyata mengalami perubahan cukup signifikan meski baru beberapa pihak saja yang berpartisipasi dalam program. Pertanyaan selanjutnya adalah bagaimana jika partisipasi ini diperluas hingga ke tingkat masyarakat lebih luas? Sebagaimana kita tahu, hak layanan pendidikan bagi penyandang disabilitas telah diatur oleh UU Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional yang mengisyaratkan bahwa negara memberikan jaminan sepenuhnya kepada anak penyandang disabilitas untuk memperoleh layanan pendidikan bermutu. Begitu juga untuk hak layanan sosial, kita bisa mengacu pada UU Nomor 8 Tahun 2016 menegaskan bahwa orang dengan disabilitas berhak untuk hidup mandiri.

Hal yang perlu mendapat perhatian dalam pemenuhan hak para difabel selain peraturan perundangan-undangan yang berlaku adalah komitmen, cara pandang (mindset) dan tentunya perspektif, dan juga partisipasi masyarakat sekitar terhadap mereka juga harus ditingkatkan. Kemungkinan besar kondisi tumbuh kembang ANR dapat diketahui sejak dini dari Kartu Deteksi Dini Tumbuh Kembang Anak oleh kader kesehatan dari Puskesmas. Sebab keterlambatan dalam perkembangan motorik dan bahasa teridentifikasi dalam dua tahun perkembangan kehidupan ANR. Namun, orang tua mengetahuinya ketika ANR duduk di bangku sekolah dasar. Padahal kendala- kendala tersebut dapat distimulasi dan diintervensi pada usia 5 tahun atau 60 bulan oleh kader PKK yang umumnya terlibat dalam kelompok kegiatan PAUD/ PKBM.

Pelibatan peran RT dan RW dapat dilakukan semisal melalui kegiatan lomba perayaan Hari Kemerdekaan untuk anak- anak di lokasi tempat tinggal ANR. Agar ANR sebagai anggota masyarakat bisa turut ambil bagian untuk mengembangkan kemampuan area bekerja serta area komunikasi dan sosial. Selain itu, pelaksanaan kegiatan tematik dapat mempertimbangkan waktu pelaksanaan dan durasi, baik di wilayah sekolah atau wilayah tempat tinggal ANR sebagai proses belajar dalam kurikulum fungsional bagi penyandang disabilitas intelektual. Dengan demikian ANR lebih memerlukan kurikulum yang berhubungan langsung dengan kebutuhan hidup mereka dan berguna secara langsung, baik untuk masa sekarang maupun bagi masa depannya nanti. Menurut saya, kurikulum yang kaya akan pengalaman dan keterampilan hidup bisa disebut sebagai kurikulum fungsional. Kurikulum tersebut bukan kurikulum yang berbasiskan akademis dengan menitikberatkan kemampuan kognitif tetapi merupakan kurikulum fungsional yang merupakan keterampilan sehari- hari yang dibutuhkan untuk hidup, bekerja, dan menjalin hubungan dengan orang lain.

Pendekatan tematik merupakan pembelajaran yang bersifat real life menjadi kebutuhan penyandang disabilitas intelektual. Tema sendiri dapat dikategorikan dalam beberapa kelompok yang dipilih berdasarkan budaya dan keadaan setempat seperti misalnya tema Hari Raya, tema Perayaan Hari Kemerdekaan, atau tema Bulan Ramadhan, sehingga penetapan dan pelaksanaan kegiatan tematik harus mewarnai setiap proses kegiatan belajar yang terselenggara di masyarakat.

Posted in Kontributor.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *