Remaja, Pendidikan Seks, dan Seksualitas: Sebuah Pengalaman Personal

Nabila May Sweetha (dok pribadi)

 

Oleh Nabila May Sweetha, Difabel Netra; Aktivis PerDIK; Pelajar SMU Negeri 1 Makassar

 

Pengetahuan tentang seks dan seksualitas bagi anak bisa didapat dari siapa saja, kapan saja, dan di mana saja. Dalam keluarga harmonis yang mempersiapkan asupan pengetahuan untuk anak-anak mereka, misalnya, pengetahuan tentang seks sangat mungkin tersedia dalam bentuk yang lebih utuh dan tidak membingungkan. Pengetahuan yang utuh ini dibutuhkan sebagai bekal bagi anak-anak dalam menghadapi masa pubertas, tumbuh menjadi dewasa, dan mengenal dan mulai berinteraksi dengan lawan jenis. Anak-anak tidak perlu mencari tahu sendiri, tidak perlu merasa bimbang dan takut bertanya, justru bisa kapan saja mendatangi orang tua untuk mengajak bicara tentang seks dan seksualitas yang belum mereka mengerti. Tapi, pengetahuan seks dan seksualitas ini bisa juga datang dari teman sebaya, atau dari informasi yang tidak sengaja dibaca di koran yang menampilkan berita pelecehan seksual. Proses menemukan, mencari tahu, dan memproleh pengetahuan tentang seks dan seksualitas ini biasanya akan berdampak ke bagaimana pengetahuan itu kemudian digunakan.

Saya tumbuh di keluarga yang tidak paham bagaimana pendidikan seks dilakukan untuk anak-anak. Saat kecil dan mandi bersama sepupu yang laki-laki, saya melihat organ reproduksinya yang berbeda dengan yang saya punyai, tapi orang tua tidak pernah menjelaskan kenapa bisa seperti itu. Ketika sepupu-sepupu saya yang kecil baru lahir dan dimandikan di pagi hari, saya biasa melihat testis bayi-bayi mungil itu dengan pertanyaan mengapa mereka berbeda. Tapi tidak ada yang menjelaskan kepada saya. Hingga akhirnya, entah bayi laki-laki yang keberapa di keluarga kami, saya baru sadar bahwa hanya bayi laki-laki yang memiliki testis. Bayi perempuan memiliki organ yang mirip dengan yang saya miliki. Dan begitulah … pengetahuan tentang perbedaan organ reproduksi datang kepada saya dari pengalaman menyimak anak bayi dimandikan.

Tanggal 14 Februari lalu, LETSS Talk menyelenggarakan diskusi dengan tema “Remaja Bicara Pendidikan Seks dan Seksualitas” dengan mengundang tujuh remaja sebagai narasumber atau bintang tamu (untuk menonton rekaman diskusi tersebut, silahkan klik tautan ini: https://bit.ly/TalkshowRemajaBicaraSeksdanSeksualitas). Tujuh remaja ini, salah satunya adalah saya. Pertanyaan pertama yang moderator lemparkan kepada saya adalah, kapan pertama kali saya mendengar kata seks.

“Duh … kapan ya itu?” Saya menggerutu dalam hati sambil mengingat-ingat.

Lalu saya tiba pada kesadaran bahwa kata seks, secara formal, baru saya dengar saat saya duduk di bangku kelas tiga SMP. Saat itu saya baru saja buta dan dimasukkan ke dalam asrama khusus difabel netra di Makassar. Tak sengaja, saya menemukan history penelusuran dengan kata kunci Cerita Seks, di salah satu komputer. Saya bertanya-tanya itu maksudnya apa, seks itu apa? Dan berbekal iseng, saya mengklik history penelusuran itu dan secara kabur melihat gambar tubuh-tubuh sedang bergumul. Begitulah, gambaran seks pertama yang saya temui di usia empat belas tahun.

Tapi, di tingkat Sekolah Dasar, teman-teman lelaki saya sering menggambar penis lengkap dengan testis di tembok-tembok toilet. Satu dua kali juga ada teman pria yang dijewer karena didapati menggambar alat kelamin laki-laki tersebut di buku tulisnya. Orang tua yang bercerai mengharuskan saya pindah-pindah bersekolah. Saat SD pun, saya beberapa kali berpindah sekolah dari SD di Makassar, ke SD di pelosok Kabupaten Pangkep. Dan saya menemukan anak-anak di kampung bapak saya, tidak pernah menggambar penis dan testis di buku tulis mereka. Toilet SD saya di kampung juga tidak dipenuhi dengan tulisan-tulisan aneh, juga gambar-gambar organ reproduksi. Saya baru menyadari perbedaan ini sekarang, saat saya berusia tujuh belas tahun dan hampir lulus SMA.

Saat saya duduk di kelas tiga SD, anggota keluarga saya yang sebaya dengan saya diperkosa. Ini membuat saya, dan juga anak-anak lain di keluarga saya terpaksa menerima pengetahuan seks dalam bentuk yang compang-camping. Saya sendiri memahami hubungan seks sebagai hal yang berdarah, lebam, menakutkan, dan disertai dengan wajah iblis memualkan. Ini mengerikan sekali. Mungkin karena trauma itu, orang-orang tua di keluarga kami lantas menanamkan trauma ke anak-anaknya dengan tidak sengaja.

“Jangan pulang lama-lama! Nanti kau ketemu nenek Olang, terus dia suruh untuk pegang-pegang burungnya!” Demikian saya pernah diingatkan sebelum keluar rumah dan pergi bermain.

Itu peringatan yang mampu membuat saya berpikir semua kakek-kakek biasanya suka menyuruh anak kecil memegang kemaluan mereka.

Sekarang saya baru mendapatkan pengetahuan seks dan seksualitas itu dengan cukup. Saya mendapatkannya dari bacaan-bacaan, dari Google, sebagian lagi dari percakapan-percakapan lepas bersama keluarga di Pergerakan Difabel Indonesia untuk Kesetaraan (PerDIK). Saya sadar bahwa di masa kecil dulu saya tidak mendapatkan pengetahuan yang utuh, dan maka dari itu sekarang saya perlu mengejar ketertinggalan itu dengan banyak membaca dan berdiskusi. Saya harap, semua orang yang semasa kecil tidak mendapatkan pengetahuan seks dan seksualitas yang utuh juga bisa mencari pengetahuan-pengetahuan itu setelah besar. Karena semua orang, tidak peduli kapan, berhak untuk mendapatkan pengetahuan.

Posted in Kontributor.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *