Bipolar dan Saya: Sebuah Pengalaman Perempuan tentang Kesehatan Mental

Dok. Pribadi

Oleh Imas Nurhayati

Penulis adalah seorang single parent dengan dua orang anak; perempuan penyintas kekerasan; jurnalis dan aktivis sosial.

Pengantar Redaksi

Mei adalah Bulan Peduli Kesehatan Mental (Mental Health Awareness Month); mungkin belum banyak di antara kita yang tahu dan ngeh. Kesehatan mental atau penyakit mental (mental illness) merupakan persoalan serius yang masih belum banyak mendapat perhatian, apalagi secara serius. Stigma dan stereotype tentang kesehatan mental dan mereka yang mengalaminya mengiringi ketidaktahuan dan ketidakpahaman kita tentang kesehatan mental ini. Lalu, tidak mudah bagi mereka yang mengalami gangguan kesehatan mental untuk sekedar mendapatkan empati atau kepedulian, apalagi mendapatkan berbagai layanan untuk mengatasi masalahnya. Jikapun ada layanan kesehatan mental, baik secara medis, klinis, maupun psikologis, hanya mereka yang mempunyai kemampuan finansial memadai yang bisa mengaksesnya. Kampanye terhadap persoalan kesehatan mental juga jarang muncul di ruang-ruang publik.

Dalam situasi lebih spesifik, perempuan menghadapi persoalan lebih rumit dan kompleks terkait kesehatan mental. Ketidakadilan gender dan seksisme, kekerasan berbasis gender, kekerasan seksual menjadi sumber fundamental yang berefek sangat signifikan pada risiko lebih besar dan lebih kompleks pada perempuan untuk mengalami persoalan kesehatan mental. Gangguan kesehatan mental menjadi ancaman inheren yang dihadapi mereka yang menjadi korban kekerasan seksual dan kekerasan berbasis gender. Perspektif gender membuat kita paham situasi dan akibat khusus kesehatan mental pada perempuan –juga kelompok gender non-normatif. Meski persoalannya nyata dan kentara, kita belum sepenuhnya menyediakan layanan lebih integratif dengan perspektif (keragaman) gender dan accessible, untuk mengatasi persoalan kesehatan mental yang dialami perempuan, terutama mereka yang mengalami kekerasan seksual dan kekerasan berbasis gender.

LETSS Talk menurunkan sebuah personal story “Bipolar dan Saya: Sebuah Pengalaman Perempuan tentang Kesehatan Mental” yang ditulis Imas Nurhayati. Redaksi mengucapkan terima kasih dan apresiasi pada penulis yang berkenan berbagi pengalamannya dengan bipolar melalui tulisan ini. LETSS Talk sangat berharap tulisan ini menjadi bagian penting membangun political will pemerintah dan keadaran publik warga terhadap persoalan kesehatan mental, terutama yang dialami perempuan.

Happy Mental Health Awareness Month 2022!

Selamat membaca dan berefleksi…

Salam R e d a k s i

***

Saya memberanikan diri untuk berbagi cerita tentang bagian hidup saya bersama bipolar.

Saya perempuan yang cerdas, aktif, dan bahagia. Saya lahir dari keluarga Muslim yang taat beragama. Saya anak tengah dari lima bersaudara. Sholat tahajud sudah rutin saya lakukan sejak SMP, mengikuti orang tua yang juga rutin melakukannya.

Sewaktu kecil, saya mengalami pelecehan seksual dari anggota keluarga lain. Pengalaman ini terus berlanjut hingga saya dewasa. Permasalahan ini baru berhenti karena pelaku akan menikah. Sayapun memberanikan diri untuk membicarakan hal ini pada orang tua. Ya, saya memendam banyak cerita pilu pada diri saya sendiri dan mengalihkannya pada segudang aktivitas yang saya sukai seperti membaca, melukis, menari, mendengarkan musik, menonton film dan lainnya. Saya sangat suka olahraga karena saya sangat senang mengolah tubuh saya dari kecil. Hampir semua permainan olahraga saya kuasai, mulai dari tenis meja, bulu tangkis, basket, sepak bola, kasti, bola voli hingga catur. Saat masih bekerja di Jakarta, saya juga suka menyelam.

Masalah sulit tidur atau bisa tidak tidur sama sekali mulai datang waktu saya duduk di SMA. Saya mengatasinya dengan membaca dan sholat tahajud. Akibat insomnia ini saya sering tertidur di kelas pada saat mata pelajaran berlangsung. Beruntung saya tidak pernah ketinggalan pelajaran. Prestasi akademik selalu baik dan saya bisa bersekolah di sekolah favorit hingga perguruan tinggi. Saya juga bisa menyelesaikan semua jenjang pendidikan hingga perguruan tinggi dengan baik.

Hingga sebelum menikah, saya merasa diri saya dalam kondisi baik-baik saja. Hanya terkadang saya merasa sedih yang teramat sangat. Entah apa sebabnya. Tapi, kemungkinan hal ini tidak lepas dari pengalaman pelecehan seksual itu, dan abainya orang tua saya terhadap kondisi jiwa saya –mereka selalu menganggap saya baik-baik saja. Sejak kecil, jika saya bercerita sesuatu pada ibu, maka dia akan lebih banyak menimpali dan mengambilalih pembicaraan. Akhirnya, sayalah yang justru mendengarkan semua kisah dan penderitaannya. Satu hal lagi, ibu juga seorang perfeksionis; dialah yang terhebat dalam semua hal. Dia merasa sebagai sosok paling sempurna dan paling hebat. Akibatnya, sedari kecil saya tidak pernah merasa bangga dengan prestasi yang saya raih, karena ibu saya yang selalu lebih hebat. Saya merasa biasa saja. Kondisi ini fatal bagi saya. Saya tidak bisa menghargai diri saya sendiri bahkan juga tubuh saya; saya tidak pernah merasa mendapat apresiasi yang layak dari orang tua. Tapi saya menyimpannya rapat di dalam dada saya. Unek-unek ini sering keluar saat tahajud. Saya merasa senang dan beruntung, saat kini menjadi seorang ibu, saya tidak menerapkan pengalaman pola asuh buruk yang pernah saya alami pada anak saya dengan menghargai semua capaian mereka.

Pada usia 32 tahun, saya memutuskan untuk menikah. Sembilan tahun saya menjalani pernikahan yang, sayangnya, tidak seperti harapan saya. Saya, juga kedua anak saya, mengalami kekerasan dalam rumah tangga (KDRT). Efeknya, saya kembali mengalami gangguan tidur. Saya sudah mengalami kekerasan yang dilakukan suami sejak anak pertama lahir. Keinginan bunuh diri mulai muncul. Kekerasan berbentuk verbal dan psikis itu membuat kami berdua –saya dan anak saya– sangat tersiksa. Anak pertama saya yang saat itu masih balita pernah menyuruh saya lari dari bapaknya ketika bapaknya memarahi saya.

Saya lebih sering diam ketika kekerasan berlangsung karena bingung dengan apa yang sedang terjadi. Memang tidak selamanya kehidupan pernikahan saya dipenuhi KDRT. Ketika anak kedua lahir dan pernikahan menginjak tahun ketujuh, kekerasan semakin menjadi. Kami bertiga –saya dan anak-anak– sering diperlakukan kasar. Terakhir, anak pertama saya dicekik ketika berusia tujuh tahun. Ia bertanya dengan nada mengancam pada anak saya sambil mencengkeram lehernya, “Mau ikut siapa?” sewaktu saya mengutarakan keinginan bercerai. Dengan ketakutan. anak saya menjawab, “Saya ikut bapak.” Lalu, anak saya mengadu pada saya sambil menangis.

Pernah lebih dari tiga malam saya tidak tidur, menjerit melolong di tengah malam karena sedih dengan kejadian itu.  Awal anak saya sekolah, hampir setiap hari kami dimarahi hingga anak saya mengalami psikosomatis. Saya bawa anak saya ke dokter. Di situlah saya disadarkan oleh dokter yang memeluk lutut saya dan mengatakan, “Apa lagi yang ibu tunggu, nanti ada yang mati.” Saya terhenyak. Sejak itu, keputusan saya untuk bercerai bulat.

Orang tua dan anggota keluarga lain tidak pernah tahu tentang apa yang saya dan anak-anak alami. Kami menutupinya dengan sangat rapat dan baik. Setiap lebaran kami bertemu orang tua, semuanya baik baik saja. Bahkan anak-anak tidak mengadukan hal ini pada siapapun.

Dua tahun terakhir pernikahan kami, giliran saya yang sering mengamuk. Saya tidak kuat, saya merusak barang, berteriak marah padanya. Saya berusaha keras melindungi anak-anak saya. Saat itu, giliran suami saya yang tidak melawan karena takut akan diceraikan.

Ketika anak kedua saya masih bayi, sekitar tujuh bulan usianya, saya dan dua anak saya pulang ke kampung, untuk menghadiri pernikahan adik yang kedua kali (istri pertamanya meninggal). Di sinilah timbul kejadian luar biasa yang dipicu oleh adik saya tersebut yang memperlakukan ibu saya seperti pekerja rumah tangga (PRT). Saya tidak bisa menerimanya, saya marah luar biasa, dan berkata kasar pada hampir semua orang. Berteriak-teriak hingga ibu saya shocked dan bahkan tidak bisa datang pada pernikahan anaknya karena jatuh sakit. Saat itu, kami bertiga menginap di rumah orangtua. Suami saya tidak di tempat karena dia kembali ke Jakarta dan akan datang sehari sebelum pernikahan.

Usai pesta pernikahan, saya disidang oleh semua anggota keluarga, disaksikan oleh suami. Saya sudah lebih tenang dan menerima semua kemarahan saudara dan ayah pada saya karena kelakuan saya sebelumnya.

Kembali ke Jakarta, suami membawa saya ke seorang psikiater, dr. Erwin Kusuma, SpKj., yang berpraktik di RSPAD, tapi kami berkonsultasi di rumahnya di daerah Menteng, Jakarta. Saat itu, usia saya 38 tahun dan masih menyusui bayi. Hasilnya, terungkaplah jika saya mengidap bipolar. Mengetahui saya bisa mengelola diri dengan baik (soal KDRT tidak saya bicarakan saat itu), dokterpun tidak memberi saya obat sama sekali, karena saya sedang menyusui.

Terapi yang diterapkan dr. Erwin sangat berhasil. Kurang lebih tiga atau empat kali saya menemuinya selalu dengan keluarga lengkap –anak-anak dibiarkan bermain, sementara saya diterapi. Ia memberikan metode dengan analogi sakelar lampu. Saya mulai tahu jika bipolar tidak bisa dihilangkan karena sudah menjadi bagian dari diri. Ia memberi tahu, seperti menyalakan atau mematikan lampu, kita juga bisa melakukan hal sama pada bipolar. Ketika lampu mati, maka lampu dan daya listriknya tetap ada meskipun tidak bekerja/menyala. Begitu juga dengan bipolar. Saya diminta banyak berdoa memohon kuasa Tuhan untuk memadamkan bipolar yang saya alami seperti mematikan lampu. Dan itulah yang terjadi, saya merasa ringan dan tahu bagaimana menanganinya.

Saya kadang merasakan gangguan bipolar muncul di saat-saat tertentu, misalnya di masa menstruasi. Tapi saya bisa mengalihkannya dengan melakukan berbagai hal yang saya ingin kerjakan, seperti menyanyi. Saat saya menyanyi, semua emosi bisa ikut larut dengan lagu yang saya bawakan. Saya juga melakukan aktivitas menggambar.

Pernikahan kami memang akhirnya tidak bertahan. Di masa sidang perceraian, suami mengajak saya kembali mengunjungi dr. Erwin Kusuma. Kali ini kami berdua yang menjadi pasiennya. Suami menuduh saya gila, karena sering mengamuk (dua tahun terakhir saya yang sering marah). Sebaliknya, saya menuduh suami saya psikopat dan sadomasokis karena KDRT yang dilakukannya. Kami berdua memutuskan untuk melakukan tes kejiwaan. Proses perceraian berlangsung lumayan lama, hampir setahun masa sidang kami alami. Dua anak kami titipkan pada orang tua saya di kampung. Akhirnya jatuh talak satu. Saya lega bisa lepas dari KDRT.

Rupanya mantan suami mau belajar. Ia bersedia terus membiayai kebutuhan anak-anak. Ia berusaha memperbaiki diri dengan mengikuti banyak terapi di antaranya dengan melalui komunitas Abdi Hening. Saya sendiri melanjutkan hidup yang lebih tenang dengan anak-anak di kampung, bertiga saja. Sesekali bapaknya berkunjung dan anak-anak menerimanya dengan baik. Pada masa liburan sekolah, kami ditawari untuk berlibur di Jakarta. Ya, kami menerimanya. Jadi walaupun sudah bercerai, kami bisa tinggal bersama dengan baik baik saja. Anak-anak bahagia dengan kehadiran bapaknya.

Tiga tahun sudah masa perceraian kami lewati, kami berdua sama-sama belajar. Berdamai dengan diri, menenangkan jiwa. Hasilnya, kami merasa menjadi diri yang lebih baik. Anak-anak semakin baik kondisi kejiwaannya. Sebagai orang tua, kami juga turut merasakan kondisi yang lebih baik pada anak-anak.

Hingga saat ini, saya masih melakukan sholat tahajud –itu mungkin penolong saya hingga kini bisa berdamai dengan bipolar. Meskipun, ketika serangan emosi dua kutub menyerang, saya bisa menangis dan tertawa secara bergantian. Jika serangan usai, saya bisa kembali tenang. Keluarga besar akhirnya tahu saya mengidap bipolar sejak saya memberitahunya usai bertemu dr. Erwin. Merekapun paham dan mengerti kondisi yang saya alami. Saya masih terus menata hidup untuk menjadi lebih baik.

Sekarang keluarga kecil kami bisa kembali dihiasi tawa lepas dan kebahagiaan dengan situasi yang lebih sehat. Anak-anak tumbuh bebas tanpa ancaman, kekerasan, ataupun intimidasi dari bapaknya. Mereka sehari-hari bersama saya, dan mereka paham saya mempunyai bipolar. Mereka tahu kondisi saya dan bisa menerimanya dengan baik.

Pernah terbersit niat akan rujuk karena dorongan mantan suami sekitar dua tahun lalu, tetapi tahun lalu saya batalkan rencana ini. Saya berdiskusi dengan banyak kawan yang memberi saya kesimpulan jika KDRT adalah pola yang selalu berulang. Saya ingin menyelamatkan diri dan anak-anak, itulah alasan saya bercerai. Jika pun akan menikah lagi, maka saya harus memastikan bahwa kami akan mendapatkan keluarga yang dirahmati kasih dan sayang.

Saya ikut prihatin dan berempati pada teman-teman yang mengalami bipolar dan gangguan kesehatan mental lainnya serta masih kesulitan bagaimana mengatasinya. Saya akui, tidak mudah menghadapi bipolar, tapi saya bisa dan terus berusaha berdamai dengannya. Jika teman-teman khususnya yang berdomisili di Jakarta berkenan untuk konsultasi, silahkan berkunjung ke dr. Erwin Kusuma. Bagi saya, metode dan pendekatan yang diterapkan dr. Erwin sangat bagus dan berhasil untuk situasi saya, bahkan tanpa obat-obatan. Semoga informasi ini bermanfaat.

Sekian cerita saya, dan berharap ada hikmah yang bisa diambil.

Posted in Kontributor.

Leave a Reply

Your email address will not be published.