Hari Perempuan Internasional: Selebrasi atau Simpati?

Julia Suryakusuma (dok pribadi)

 

Oleh Julia Suryakusuma

(Direktur Pusat Gender dan Demokrasi, LP3ES)

 

(Edisi Bahasa Inggris artikel ini berjudul “International Women’s Day: Celebration or Commiseration?” diterbitkan oleh The Jakarta Post (Rabu, 9 Maret 2022). Untuk membaca versi bahasa Inggris artikel ini, berikut linknya: https://www.thejakartapost.com/opinion/2022/03/08/international-womens-day-celebration-or-commiseration.html. Mbak Julia Suryakusuma sendiri yang menerjamahkan artikel ini ke bahasa Indonesia agar bisa diakses pembaca lebih luas. LETSS Talk mengucapkan terima kasih kepada mbak Julia Suryakusuma yang berkenan membagikan artikel versi bahasa Indonesia  ini untuk diterbitkan di website LETSS Talk ).

 

 

 

 

Kemarin, 8 Maret, kita merayakan Hari Perempuan Internasional (Internasional Women’s Day, IWD)! Yaaay!

Berbagai ucapan salam dan slogan IWD berseliweran, dan serentetan webinar dan bahkan beberapa acara offline diadakan, menjelang 8 Maret, dan akan berlanjut hingga dua minggu setelahnya, seperti yang biasanya terjadi setiap tahun.

Apakah IWD tahun ini lebih merupakan saat untuk bersimpati ketimbang selebrasi? Yang pasti, diperlukan refleksi mendalam dan tindakan drastis, mengingat kondisi dunia saat ini. Kita berada di tahun ketiga pandemi COVID-19, dan perubahan iklim merupakan ancaman nyata bagi umat manusia dan keberadaan planet kita.

Namun uang dibuang sia-sia untuk acara mahal seperti Konferensi Perubahan Iklim Perserikatan Bangsa-Bangsa (COP26) November 2021 di Glasgow, yang dianggap Greta Thunberg, aktivis lingkungan hidup dari Swedia, sebagai kegagalan kolosal. Ia menyebutnya sebagai “festival greenwash Global Utara.” [greenwash: seolah-olah “hijau”, tetapi polesan saja. JIS]

Seperti yang ditulis Safina Maulida, seorang ekofeminis muda, “Rusak lingkungan, rusak sendi penghidupan perempuan”. Dan tahu tidak? Krisis ekologi menyebabkan peningkatan kekerasan terhadap perempuan lho!

Maka tepat sekali jika tema PBB IWD tahun ini adalah “Gender Equality for a Sustainable Tomorrow” (Kesetaraan Gender untuk Hari Esok yang Berkelanjutan). Hari esok yang penuh dengan ketidakpastian  yang menakutkan celakanya.

Seakan pandemi COVID-19 dan perubahan iklim saja belum cukup, kini muncul ancaman nuklir Perang Dunia III yang dipicu oleh invasi Rusia ke Ukraina, yang bahkan terlalu menakutkan untuk dibayangkan. Boom! Selamat tinggal dunia!

Yah, mungkin sudah waktunya untuk menekan tombol reset, mengingat para pemimpin kita terus-menerus gagal untuk mengatasi masalah mendasar yang nyata-nyata dihadapi dunia. Mereka malah terlibat dalam berbagai acara kosmetik untuk mengabadikan status quo agar mereka dapat mempertahankan praktik “bisnis seperti biasa” dan memenuhi keserakahan mereka  yang tak  kunjung terpuaskan.

Peringatan Hari Perempuan pertama konon dilakukan pada 28 Februari 1909 di New York City, yang diselenggarakan  Partai Sosialis Amerika. Tetapi tanggal 8 Maret berasal dari bekas Uni Soviet, yang diorganisir pekerja tekstil perempuan di Petrograd, yang menuntut diakhirinya Perang Dunia I dan tsarisme, serta memrotes kekurangan pangan. Gerakan perempuan ini akhirnya mengawali Revolusi Rusia, dan Leon Trotsky, seorang revolusioner Marxist berkebangsaan Ukraine-Rusia yang mempunyai peran kunci di dalam Revolusi Rusia,  mendeklarasikan 8 Maret (23 Februari dalam kalender Julian) sebagai Hari Perempuan Internasional. Wow, siapa yang duga!

Sampai tahun 1967, IWD lebih merupakan hari libur komunis. Namun kemudian diambil oleh feminis gelombang kedua, yang dimulai pada 1960-an dan berlangsung selama dua dekade. Saat ini, gara-gara invasi Ukraina oleh Rusia,  kita memandang negara yang dahulu Uni Soviet  dengan rasa cemas dan takut, namun nyatanya,  IWD, yang sekarang dirayakan di seluruh dunia, memiliki asal-usul dari sana.

Melihat kembali sejarah IWD, saya bertanya-tanya, apakah sebaiknya kini  disebut Hari Feminis Internasional? Bagaimanapun juga, feminisme memiliki hawa aktivisme yang lebih kontemporer, dan dengan tujuan terarah untuk mencapai kesetaraan gender. Meskipun feminisme berasal dari abad ke-19, feminisme masih kontroversial, disalahpahami, dan bahkan sengaja diselewengkan, juga di Indonesia.

Untuk alasan ini, Pusat Gender dan Demokrasi (PGD) yang saya pimpin mengadakan webinar pada 24 Februari, “Feminisme: apakah Indonesia membutuhkannya?” karena banyak pandangan yang menentangnya. Di Indonesia ada gerakan #IndonesiaTanpaFeminis, #UninstallFeminisme dan “melawan feminisme”. Gerakan-gerakan ini muncul dari kelompok Islam patriarkis, yang menganggap feminisme dari Barat, bahwa feminisme mengganggu nilai dan konstruksi keluarga tradisional, dan kata mereka, bertentangan dengan prinsip-prinsip Islam.

Namun, pada pertengahan Januari lalu, Nahdlatul Ulama (NU) memasukkan 11 perempuan ke dalam jajaran pengurusnya. Badriyah Fayumi dan Alisa Wahid, dua dari 11 perempuan yang tampil dalam Talkshow Rosi “Wajah Baru Nahdlatul Ulama” secara terang-terangan mengaku diri sebagai feminis.

Halo? Jadi, siapakah Muslim yang sebenarnya? Bagi saya, jelas yang kedua!

Pada webinar 24 Februari yang lalu, saya mengundang dua perempuan dan dua pria untuk menjadi nara sumber: feminisme sekuler diwakili Atnike Nova Sigiro dan Rocky Gerung, dan feminisme Islam diwakili  Nina Nurmila dan Marzuki Wahid – semuanya feminis sejati. Ya, termasuk para prianya!

Diskusi berlangsung dalam format talk show – yang dipandu Nadya Karima Melati,  feminis muda yang cerdas dan ceria – sangat informatif dan menggugah. Semua pembicara mengemukakan pendapat mereka tentang bagaimana Indonesia dan Islam diuntungkan dari feminisme dalam segala bentuk dan manifestasinya: Teori, filsafat, metodologi, etika dan gerakan. Oke, saya curang, saya tidak mengundang pihak yang anti-feminis, tetapi saya pikir, hei, buat apa buang-buang waktu?

Jika webinar PGD lebih dimaksudkan sebagai feminisme 101 (pelajaran  mendasar), baru-baru ini, pada tanggal 6 Maret, berkaitan dengan IWD, LETTS Talk menyelenggarakan diskusi meja bundar empat jam yang merupakan tindak lanjut yang sangat pas dari webinar PGD saya. Judulnya “Feminisme Indonesia di Tengah Politik Identitas dan Anomali Sosial”. LETSS Talk adalah forum diskusi yang didirikan Diah Irawaty dan Farid Muttaqin, untuk membahas seks, seksualitas dan masih banyak lagi.

Kesembilan pembicara, mulai dari profesor universitas, penulis, hingga aktivis di lapangan, memberikan diskusi yang kaya dan informatif berdasarkan pengalaman, penelitian, yang sangat didasarkan pada realitas kontemporer. Para pembicara dengan jelas menunjukkan kompleksitas situasi saat ini di Indonesia dan arena di mana feminisme beroperasi. Di tingkat akar rumput, istilah feminisme tidak digunakan, bahkan mungkin tidak dikenal. Namun prinsip-prinsip kesetaraan dan keadilan gender tetap diterapkan.

Kampanye slogan IWD tahun ini adalah “Break the Bias” (Patahkan Bias), dengan gambar perempuan menyilangkan kedua lengan di depan dada. Apa artinya ini? Yah, kita semua memiliki bias, sadar atau tidak, yang berasal dari pendidikan, kelas, ras, etnis, jenis kelamin, agama, dan berbagai stereotip yang diserap dari lingkungan kita. Bias-bias ini diwariskan, yang merupakan salah satu dasar pelanggengan patriarki.

Jika kita mengubah “Hari Perempuan Internasional” menjadi “Hari Feminis Internasional” apakah itu membantu? Belum tentu juga. Ada kontradiksi dan bias  yang dalam di dalam gerakan feminis juga. Di AS, misalnya  ada feminisme kulit putih versus feminis kulit hitam. Kemudian juga ada Feminisme Dunia Pertama dan Feminisme Dunia Ketiga.

Kaum feminis Dunia Pertama sering tidak menyadari bias kolonial dan imperialis yang mereka anut yang pernah saya alami secara pribadi dan yang sangat menyakitkan. Belum lagi terdapat  bahaya feminisme  dikooptasi oleh negara dan oleh kapitalisme. Kalau begitu, lantas bagaimana?

Dengan cara yang sama Islam, Kristen, dan demokrasi dapat ditafsirkan, diselewengkan dan dihayati dengan berbagai cara, demikian pula feminisme. Pengarusutamaan feminisme adalah salah satu tujuannya, namun seperti Era Reformasi yang menjanjikan demokrasi tetapi dikooptasi oleh kekuatan non-demokrasi, feminisme juga dapat dikooptasi oleh kekuatan patriarki. Bagaimana kita mengatasi  kontradiksi ini?

Pada akhirnya, feminisme, baik teori maupun praktik, berakar pada sejarah dan konteks sosial politik tertentu di mana ia berada. Tidak diragukan lagi masih banyak hal yang perlu kita selesaikan baik di dalam maupun di antara kita sendiri. Tetapi jika gerakan IWD pekerja tekstil di Rusia pada tahun 1917 dapat mengawali Revolusi Rusia yang menggulingkan Tsar, kita tidak bisa mengabaikan kekuatan perempuan. Demikian pula di Indonesia, sekelompok kecil perempuan bernama Suara Ibu Peduli (SIP) mengawali Era Reformasi di mana Jenderal (Purn.) Soeharto lengser setelah 32 tahun berkuasa secara otoriter.

Kenyataan bahwa kekuatan patriarki, kapitalis, serta oligarki masih mendominasi dunia, dan terus-menerus berusaha untuk menghentikan, mengkooptasi bahkan menghancurkan gerakan sosial progresif, termasuk gerakan feminis, semakin menjadi alasan untuk membuat setiap hari IWD, bukan hanya satu hari dalam setahun.

Posted in Kontributor.

Leave a Reply

Your email address will not be published.