Saat Mata Air Menjadi Air Mata Mama

Maria B. Roni, mama tujuh anak mulai mengambil air di Pabocu Cuwa sebanyak tiga kali sehari sepanjang sisa usia mereka, bahkan hanya empat minggu melahirkan.

Maria B. Roni, mama tujuh anak mulai mengambil air di Pabocu Cuwa sebanyak tiga kali sehari sepanjang sisa usia mereka, bahkan hanya empat minggu melahirkan.

 

Oleh Apri Iriyani

Database and Communications Specialist

 

Mama dan mata air memiliki kaitan yang erat. Bahkan, mama adalah makhluk yang paling banyak menggunakan air. Jika mereka melihat air, ada saja yang ingin dikerjakan terutama untuk keperluan keluarga. Namun, bagaimana jika kita tinggal di wilayah yang kesulitan mendapatkan air bersih? Kenyataan ini saya temui di wilayah Provinsi Nusa Tenggara Timur, khususnya Pulau Sumba, ketika saya terlibat dalam proyek pembangunan air bersih sepanjang tahun 2013.

Wilayah Provinsi Nusa Tenggara Timur, khususnya Pulau Sumba bukan termasuk wilayah krisis air. Menurut sebuah penelitian,  sumber mata air Pabocu Cuwa di Kabupaten Sumba Tengah sudah lebih dari cukup memenuhi kebutuhan mata air tiga desa Maderi, Daha Elu, dan Dewa Tana. Lantas, di manakah letak masalahnya yang serius?

Masalah serius terletak pada jarak antara sumber mata air dengan pemukiman penduduk yang hanya bisa ditempuh dengan berjalan kaki lebih dari dua kilometer. Terlebih, kondisi geografis di sana merupakan jalan setapak yang menanjak dan tidak rata di beberapa tempat. Para mama harus merangkak menaiki dan menuruni batu-batu besar yang menghalangi jalan untuk sampai di Pabocu Cuwa, sungai berbentuk gua di bawah tanah. Air mata mereka yang mengalir tidak hanya berhenti sampai di sini, mereka masih harus menuruni tangga bambu licin yang sederhana buatan masyarakat sendiri menuju sumber air gua bawah tanah. Lalu, mereka kembali mendaki tangga bambu sambil memanggul 20 liter air untuk pulang ke rumahnya.

Pekerjaan mengambil air rutin dilakukan semua mama di sini pada pukul enam pagi, ketika matahari mulai terbit, sebanyak tiga kali sehari sepanjang sisa usia mereka. Sama seperti wilayah-wilayah lain yang menghadapi kesulitan air, mengambil air di sumbernya hampir selalu menjadi tugas perempuan. Mereka dibebaskan dari pekerjaan mengambil air hanya selama beberapa minggu setelah para mama melahirkan. Seperti pengakuan Maria B. Roni, mama tujuh anak, bahwa dia memulai kegiatan mengambil air di Pabocu Cuwa setelah empat minggu melahirkan. Pekerjaan berat mengambil air hingga selama dua jam bahkan hanya digunakan membuat secangkir kopi panas untuk suaminya tiga kali sehari.

Air dari Pabocu Cuwa sesungguhnya kurang hiegenis bila tidak diolah terlebih dahulu. Mirisnya kebiasaan minum air mentah langsung dari Pabocu Cuwa sering dilakukan oleh hampir seluruh masyarakat tempo dulu. Setiap tahun saat memasuki musim kemarau mulai Mei-Desember kekeringan melanda kawasan Pulau Sumba, bisa dikatakan hampir tidak ada air hujan. Pabocu Cuwa yang airnya mengalir deras semakin lama semakin susut. Namun apa hendak dikata, itulah satu-satunya sumber air yang dimiliki ketiga desa tersebut dan mengambil air merupakan tugas utama mama Maria B. Roni.

Selain itu, perempuan di sana juga diwajibkan membantu suaminya menanam singkong, sayuran, mencari rumput pakan hewan ternak mereka, memasak, membersihkan pekarangan rumah, dan mengurus putra-putrinya yang masih kecil. Namun tak satupun dari pekerjaan itu memerlukan kehati-hatian ekstra tinggi seperti mengambil air di Pabocu Cuwa yang melewati tangga bambu sederhana untuk masuk ke dalam gua bawah tanah. Sambil menjaga keseimbangan di tangga yang licin, mama Maria B. Roni mengangkat ember berisi air. Begitu ember berisi air sampai di permukaan dan mengulangi kembali dengan ember lain mengambil air dari bawah tanah, mama Maria juga harus menghalau serbuan anjing yang bebas berkeliaran dan kehausan.

Ini budaya Sumba Tengah yang sudah lama dipraktekkan. Sedari awal para perempuan telah menyadari dan tahu bahwa mereka akan memikul kehidupan yang berat. Mereka tidak pernah mempertanyakan hidupnya dan tidak pernah mengharapkan sesuatu yang berbeda. Namun jika kita harus menghabiskan waktu berjam- jam untuk mengangkut air dari tempat jauh, kita pasti akan menghargai setiap tetesnya. Begitu juga membujuk masyarakat tiga desa. Maderi, Daha Elu, dan Dewa Tana, yang harus mengambil air dengan lebih dahulu melintasi perbukitan agar dia menggunakan airnya itu untuk mencuci adalah sesuatu hal yang sulit. Namun masalah sanitasi dan kebersihan amatlah penting bagi kesehatan- mencuci tangan dengan benar saja dapat mengurangi penyakit diare sekitar 45 persen.

Sementara, Maria B. Roni mencuci tangan dengan air “mungkin sekali sehari,” katanya. Dia jarang sekali mencuci pakaian, bila tidak ingin dibilang sekali setahun.

“Kami bahkan tidak punya cukup air untuk minum, bagaimana kami dapat mencuci pakaian?” tambahnya lagi.

Dia menyeka tubuhnya hanya sesekali. Jadi menyediakan air bersih ke pemukiman masyarakat desa adalah kunci untuk memutus lingkaran kesengsaraan ini. Semua waktu yang sebelumnya dihabiskan untuk mengangkut air dapat digunakan untuk menanam lebih banyak tanaman pangan, memelihara lebih banyak ternak, atau bahkan dengan berusaha menambah nilai pendapatan keluarga. Mereka juga akan lebih jarang terserang penyakit yang ditularkan melalui air. Yang terpenting adalah bisa terbebas dari keharusan menunaikan tugas berat mendapatkan air yang membebani hidup para Mama dan anak-anak perempuannya. Akhirnya anak-anak terutama anak perempuan bisa bersekolah dan memilih kehidupan yang lebih baik. Tidak ada lagi air mata mama yang harus mengalir untuk mendapatkan sumber mata air dari keran air yang berjarak hanya lima menit jalan kaki dari rumah mereka. []

Posted in Kontributor.

One Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.